Tuban, Newsinsight – Kalau Anda suka jalan-jalan mencari suasana angker, jangan jauh-jauh. Cukup mampir ke Desa Sukogunung, Kecamatan Kenduruan. Di sana, di tengah kerimbunan pohon yang jarang disentuh manusia, berdiri sebuah gedung kokoh milik Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Pemandangannya begitu unik sampai-sampai bikin orang geleng-geleng kepala sambil menahan tawa.
Secara akal sehat, koperasi itu kan tempat orang cari untung, tempat warga bertransaksi, tempat menabung dan meminjam. Logikanya harusnya dibangun di pinggir jalan, di balai desa, atau di titik yang paling ramai dilewati orang. Tapi ini? Seolah-olah orang yang merencanakannya sengaja bermain petak umpet: bawa gedungnya masuk ke dalam hutan supaya tidak ketahuan siapa-siapa.
Orang jadi bertanya-tanya sambil tersenyum kecut: “Wah, ini koperasi buat siapa? Apakah pemiliknya berharap kera, babi hutan, atau siluman ular yang datang menabung dan berbelanja? Atau mungkin mau bersaing dengan rumah hantu yang sudah ada?”
Salah satu warga bahkan sampai bercanda sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. “Bangunannya bagus, besar, dan megah. Tapi ditaruh di tengah hutan begini, terus siapa yang mau beli? Kalau kami mau ke sana, harus bawa bekal, kompas, dan mungkin jimat pengusir hewan buas dulu baru berangkat. Ini koperasi atau pos pengamatan satwa liar?”
Kalau dipikir-pikir, ini benar-benar rencana yang “brilian” tapi konyol. Bagaimana mungkin ekonomi desa mau maju kalau aksesnya saja harus menembus belantara? Apakah nanti anggaran operasionalnya dipakai untuk membayar pemandu jalan atau memotong semak belukar supaya warga bisa lewat?
Rasanya sayang sekali anggaran yang dipakai untuk membangun gedung mewah itu. Kalau dibiarkan begini terus, dalam setahun mungkin gedung itu tidak diinjak orang sama sekali. Tamunya hanya burung hantu yang hinggap di atap, kelelawar yang tidur di sudut ruangan, dan lumut yang merayap di tembok.
Sungguh pembangunan yang membingungkan. Kalau tidak ada penjelasan yang masuk akal, orang akan makin curiga: apakah memang salah hitung, atau memang ada maksud lain supaya gedung ini sepi dari orang, sepi dari pengawasan, dan sepi dari pertanyaan?
Jangan sampai nanti pengurus koperasi hanya bisa menatap gedung kosong sambil berkata sedih: “Wah, barangnya sudah ada, uangnya sudah keluar, tapi nasabahnya cuma pohon dan batu.”







